Akhirnya....
Jadi mulai hari yang telah ditentukan saya resmi menjadi murid Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam. Saya menempati kamar yang muat untuk 20 puluh siswa dan semuanya laki-laki, ya iyalah laki-laki semua masak mau digabung dengan yang siswa putri, bukan pondok namanya. Kamar itu biasa disebut dengan KPA yang sampai sekarang saya tidak tahu apa kepanjangannya, Kamar Putra kah atau Kamar Dua Puluh Putra kah ? entah mana yang pas, yang jelas benar semua, isinya dua puluh dan laki-laki semua. Selang waktu, akhirnya orang tua saya pulang dengan segudang harapan semoga anaknya jadi lebih baik dan mandiri (wuih selangit, amin ya Allah). "Saya Wildan, mas siapa namanya dan dari mana ?", pertanyaan pertama yang saya lontarkan. Dia bilang dari Cialacap dan maaf saya lupa mengingat nama kawan itu. Setelah ber cas-cis-cus tak terasa sore tiba dan waktunya mandi. Sepertinya seru karena ngebayangin ratusan orang yang sudah pasti berkebutuhan sama di saat yagn sama juga dan terbukti !!. Dulu, tempat mandi ala Vietnam itu (kenapa ala Vietnam-meskipun saya sama sekali belum pernah ke Vietnam-ntar aja critanya, ok) jadi satu dengan tempat wudlu, nyuci baju, nyuci piring, ngejemur baju. Tempat itu jadi salah satu tempat bersosialisasi atau bahasa kerennya community centre atau biasa disebut dengan "Reservoir". Tempat dimana kita harus tepo seliro karena masing-masing harus berbagi kran dan air, bersatu kita nyuci atau malah air mati sekalian.. . Mengapa disebut "RESERVOIR" ? karena pas di tengah community centre itu ada tempat nyimpen air, tong super guede dengan cat coklat dan tulisan RESERVOIR berwarna putih. Jadi kalo ada yang bilang mau ke reservoir ya silakan ditebak dan gampang ditebak, kalo dia bawa ember besar dengan setumpuk baju di dalamnya berarti mau nyuci baju, kalo dia bawa nampan tempat makan dan cangkir berarti mau nyupan (nyuci nampan, bukan nyupir, nyuci piring karena memang gak ada piring), kalo bawa gayung lengkap dengan peralatan tempur berarti mo mandi, kalo gak bawa apa-apa sambil siul dan jalan setengah berlari mungkin desakan kandung kemih yang sudah tida bisa ditahan alias cuma mau pipis atau udah terjangkit virus HIV (Hasrat Ingin Vivis, maksa dikit he..he). Balik ke mandi ala Vietnam, jadi di sisi kanan dan kiri reservoir ada bangunan tembok persegi panjang terbuka dengan panjang kira-kira 20 m, dibuat bersekat tembok setinggi kepala bocah SMP, istilahnya bilik mandi lengkap dengan pancuran atau shower, penutupnya tirai kain yang karena sudah seringnya kena panas, hujan, dan air mandi, bagian bawahnya jadi jamuran (please jangan dibayangin !). Masing-masing bilik hanya untuk satu orang, kalo kepepet ya bisa buat ber dua atau ber tiga, maksa dikit. Jumlah bilik kira-kira ada sepuluhan, mau mandi sambil nyanyi boleh, sambil pidato boleh, sambil nangis boleh (karena mungkin kangen rumah dan malu seandainya ketauan nangis di kamar), sambil ngobrol juga ok dan karena masing-masing bilik terbuka, satu sabun bisa berpindah-pindah dan berlompatan dari satu bilik ke bilik lain karena ada yang lupa bawa sabun (saya jamin belum ada yang berbagi sikat gigi, kecuali dia nggosob sikat gigi orang). Well, sesuai fungsi dan aturannya yang wajib diketahui, dipahami, dan dilaksanakan oleh masing-masing santri, bilik mandi itu khusus buat mandi dan pipis. Lah pernah suatu kali saya mau mandi, saya lihat ada bilik yang kosong, dan air pancuran lagi deras-derasnya, wih bakalan seger, eee kok ya ada yang sempat-sempatnya menaruh sisa metabolisme perutnya di tempat itu, walah sueger bener #$%@?!!, audzubillah syaithon...

date Selasa, 09 Maret 2010

0 komentar to “Tetap Bisa Tersenyum di Assalaam 02”

Leave a Reply: